Peluk Aku Ibu

11 08 2009

Aku berdiri mengamati laki-laki yang terbujur kaku itu. Ibu bilang dia adalah pamanku, sepupunya Ibu. Ia meninggal karena penyakit jantung dan komplikasi penyakit lainnya, dia memang terlihat sudah tua. Pagi itu ibu memintaku menemaninya ke Bogor ketika pagi-pagi buta telepon berdering mengabarkan berita duka itu. Aku menggantikan ayah yang hanya diam ketika ibu memintanya untuk menemani. Meski begitu ayah masih mencoba menunjukan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga dengan mengantar kami berdua ke stasiun kereta. Pukul 9 pagi kereta ekspres Pakuan tiba, kali ini tepat waktu. Kuamati setiap kursi semuanya penuh, aku dan ibu berdiri didekat pintu keluar, disitu ada sudut yang bisa kami jadikan sandaran ketika kereta bergoncang-goncang meluncuri rel. Sekian lama akhirnya ada kursi kosong, kubiarkan ibu duduk sementara aku masih melemparkan pandanganku pada beragamnya pemandangan dari balik kaca pintu kereta…tak benar-benar melihat juga tak benar-benar memandang. Pikiranku terhanyut jauh kedalam alam pikiran lain, betapa lelahnya aku.
Beberapa jam berlalu kereta tiba di Stasiun Bogor aku dan Ibu turun. Aku melihat ada keributan, tiba-tiba tangan Ibu lepas dari genggaman tanganku. Aku tak bisa melihatnya!. Seketika dari belakang ibu memelukku dan tersenyum. Ah…momen sekejap itu menakutkanku, kukira aku tertinggal sendirian disini. Kami kembali berjalan menuju pintu keluar, ibu seperti kebingungan memilih angkot mana yang harus dinaiki. Membuatku kesal melihatnya. Dia pernah melakukan hal yang sama ketika kami pergi ke sebuah pusat grosir di Jakarta, dia berkilah bahwa kota ini sudah banyak berubah. Kupikir itu juga karena dia sudah terlalu lama meninggalkan kota itu dan juga masa mudanya. Akhirnya ibu memilih satu angkot setelah orang-orang disitu ramai memberi tahu ibu daerah yang ia tanyakan. Angkot itu berhenti disebuah bangunan putih, oh tampaknya Rumah Sakit, aku memberitahu Ibu bahwa sebaiknya kita kerumah saja karena mungkin jenazahnya sudah dibawa kesana. Ibu diam saja. Benar saja tak lama kami melaju lagi kerumah yang dari awal kami tuju. Dasar ibu, permpuan itu begitu lembut. Airmatanya mengalir meski belum juga melihat jenazahnya. Aku memeluknya berusaha membagi kesedihan itu. Sebagian masa muda ibu dihabiskan di kota ini jadi apapun yang ada disana memiliki kesan mendalam baginya.
Dan kini kembali lagi aku masih berdiri menatapi tubuh beku dihadapanku. Kali ini aku bertanya-tanya tentang apa yang ada dihadapanku. Mengapa ayah ada disini?bukankah ia tidak ikut bersama kami?Dan siapakah tubuh yang masih muda dan segar itu?Ibu jangan menangisinya….apakah itu aku? Kuelus kepalanya yang ditutupi jilbab coklat itu dan kulihat dimatanya sekelebatan potongan momen ketika pisau penjambret itu menembus perutku ketika kucoba menghalaunya untuk mengambil tas ibu. Ibu menopangku yang roboh kebelakang. Orang-orang ramai membawaku ke klinik terdekat, namun tusukan itu begitu tepat untuk mengakhiri perjalananku. Aku ingat ketika aku berhenti melawan dan menyerahkan diri pada Penjemputku.
Ibu maaf aku tidak bisa melawan, kau tahu betapa lelahnya aku. Dan Sang Rabb telah memberikan tempat untuk kita berkumpul lagi nanti. Aku akan menunggu masa itu. Ibu, terima kasih untuk tetap memelukku hingga akhir.

Tangerang, 28 Desember 2008





Monolog

11 08 2009

Sesungguhnya aku tak pernah benar-benar tahu seperti apa lukisan pagi itu…aku berkali-kali melewatinya sejak kejadian itu. Ibu sudah paham benar kebiasaan baruku ini. Dan sebagai seorang ibu dia tak pernah mundur satu langkahpun untuk membuatku bangun lebih pagi. Ibu akan memanggilku mulai dari volume suara terendah hingga yang membuat ayam-ayam tetangga minder dengan kenyaringan suaranya.
Ibu pernah bertanya kepadaku apakah ini kehidupan yang aku inginkan. Bergulat dengan mimpi yang tak juga coba diraih, hanya berputar-putar didalam rumah. Ibu bilang ada yang tak sama dalam diriku, dan dia merindukannya. Rindu aku yang penuh semangat, selalu bangun pagi dan melangkah penuh ambisi keluar rumah. Tapi inilah aku, aku yang sulit didefinisikan. Perubahan membawaku pada jati diri yang hilang, hilang dihancurkan olehnya. Dia yang telah menipuku mentah-mentah, membuang semua mimpi dan keharmonisan pikiranku. Setiap malam aku harus berfikir keras mengapa sampai aku yang mengalaminya, tanpa kusadari aku begitu hanyut didalamnya dan tersesat terlalu jauh.
“Bu, apa yang harus aku lakukan?”
“Tidakkah kau ingat semua mimpi-mimpimu, nak?tidakkah kau ingin hidup dengan tenang?Hiduplah dengan wibawa dan harga diri. Kelak kau sadari bahwa kaulah tuan yang sebenarnya dalam dirimu sendiri, bukan dia.”
“Bu, bagaimana jika aku tak mendapatinya hingga aku mati?”
“ Sesungguhnya kau saat ini seperti mati, nak.”
“Lalu apakah sudah lenyap kesempatan itu, Bu?”
“Kau mati dalam kesadaran. Tapi yang sedikit dari yang terus berdetak dan berfikir masih melanjutkan tugasnya. Ibu tahu kau masih menyeret badanmu meski kakimu telah lumpuh. Temukanlah kebahagiaanmu dari yang sedikit itu.”
“Aku ingin berhenti, Bu…..”
“Tuhan telah memberimu banyak kesempatan untuk berhenti dan mengeluh kepadaNya. Tuhan juga telah melipahkan dua madu dari setiap satu racun yang kau rasakan.”
“Bu….apa Tuhan membenciku?”
“Tidak nak, karena aku sangat menyayangimu. Tuhan punya lebih dari luas dunia kelapangan untuk diberikan pada setiap umatnya…dan ridhoNya bisa kau lihat padaku.”
“Bagaimana jika tak ada seorangpun yang percaya padaku?”
“Apa yang kau takutkan?mereka juga terlahir dan mati sendirian.”
“Bantu aku mencari yang hilang, Bu…”
“Tak pernah ada yang hilang, nak. Hanya kau yang saat ini menolak untuk melihatnya. Kau telah menggantikan apa yang sebenarnya dengan kesemuan yang melarut.”
“Bantu aku untuk melihatnya…”
“Doaku adalah mata untukmu, dan Tuhanmu adalah sebenar-benarnya penglihatan untukmu, sayang.”
“Terima kasih, Bu”

Tangerang, 24 Desember 2008.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.