Aku berdiri mengamati laki-laki yang terbujur kaku itu. Ibu bilang dia adalah pamanku, sepupunya Ibu. Ia meninggal karena penyakit jantung dan komplikasi penyakit lainnya, dia memang terlihat sudah tua. Pagi itu ibu memintaku menemaninya ke Bogor ketika pagi-pagi buta telepon berdering mengabarkan berita duka itu. Aku menggantikan ayah yang hanya diam ketika ibu memintanya untuk menemani. Meski begitu ayah masih mencoba menunjukan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga dengan mengantar kami berdua ke stasiun kereta. Pukul 9 pagi kereta ekspres Pakuan tiba, kali ini tepat waktu. Kuamati setiap kursi semuanya penuh, aku dan ibu berdiri didekat pintu keluar, disitu ada sudut yang bisa kami jadikan sandaran ketika kereta bergoncang-goncang meluncuri rel. Sekian lama akhirnya ada kursi kosong, kubiarkan ibu duduk sementara aku masih melemparkan pandanganku pada beragamnya pemandangan dari balik kaca pintu kereta…tak benar-benar melihat juga tak benar-benar memandang. Pikiranku terhanyut jauh kedalam alam pikiran lain, betapa lelahnya aku.
Beberapa jam berlalu kereta tiba di Stasiun Bogor aku dan Ibu turun. Aku melihat ada keributan, tiba-tiba tangan Ibu lepas dari genggaman tanganku. Aku tak bisa melihatnya!. Seketika dari belakang ibu memelukku dan tersenyum. Ah…momen sekejap itu menakutkanku, kukira aku tertinggal sendirian disini. Kami kembali berjalan menuju pintu keluar, ibu seperti kebingungan memilih angkot mana yang harus dinaiki. Membuatku kesal melihatnya. Dia pernah melakukan hal yang sama ketika kami pergi ke sebuah pusat grosir di Jakarta, dia berkilah bahwa kota ini sudah banyak berubah. Kupikir itu juga karena dia sudah terlalu lama meninggalkan kota itu dan juga masa mudanya. Akhirnya ibu memilih satu angkot setelah orang-orang disitu ramai memberi tahu ibu daerah yang ia tanyakan. Angkot itu berhenti disebuah bangunan putih, oh tampaknya Rumah Sakit, aku memberitahu Ibu bahwa sebaiknya kita kerumah saja karena mungkin jenazahnya sudah dibawa kesana. Ibu diam saja. Benar saja tak lama kami melaju lagi kerumah yang dari awal kami tuju. Dasar ibu, permpuan itu begitu lembut. Airmatanya mengalir meski belum juga melihat jenazahnya. Aku memeluknya berusaha membagi kesedihan itu. Sebagian masa muda ibu dihabiskan di kota ini jadi apapun yang ada disana memiliki kesan mendalam baginya.
Dan kini kembali lagi aku masih berdiri menatapi tubuh beku dihadapanku. Kali ini aku bertanya-tanya tentang apa yang ada dihadapanku. Mengapa ayah ada disini?bukankah ia tidak ikut bersama kami?Dan siapakah tubuh yang masih muda dan segar itu?Ibu jangan menangisinya….apakah itu aku? Kuelus kepalanya yang ditutupi jilbab coklat itu dan kulihat dimatanya sekelebatan potongan momen ketika pisau penjambret itu menembus perutku ketika kucoba menghalaunya untuk mengambil tas ibu. Ibu menopangku yang roboh kebelakang. Orang-orang ramai membawaku ke klinik terdekat, namun tusukan itu begitu tepat untuk mengakhiri perjalananku. Aku ingat ketika aku berhenti melawan dan menyerahkan diri pada Penjemputku.
Ibu maaf aku tidak bisa melawan, kau tahu betapa lelahnya aku. Dan Sang Rabb telah memberikan tempat untuk kita berkumpul lagi nanti. Aku akan menunggu masa itu. Ibu, terima kasih untuk tetap memelukku hingga akhir.
Tangerang, 28 Desember 2008